Di suatu malam yang gelap gulita, seorang pemuda bernama Ardi memutuskan untuk mendaki gunung terpencil yang jarang dijamah orang. Berbekal peta dan senter, ia melangkah percaya diri, meskipun teman-temannya sudah memperingatkannya tentang hutan itu. Hutan Arwah, begitu orang menyebutnya, konon menyimpan kisah tragis dan suara-suara aneh yang sering muncul saat matahari tenggelam.
Setelah beberapa jam berjalan, Ardi sadar dirinya telah tersesat. Peta yang ia bawa tampak tak berguna—jalur yang seharusnya jelas malah terhalang oleh pepohonan besar yang seolah-olah menutup diri. Dengan keringat dingin, ia memutuskan untuk kembali, tapi kabut tebal tiba-tiba menyelimuti sekitar, membuat jarak pandangnya semakin terbatas.
Langkahnya berhenti saat telinganya menangkap suara samar, seperti rintihan seseorang. Ardi mencoba mengabaikan, mengira itu hanya imajinasinya. Namun, suara itu semakin jelas, berubah menjadi isak tangis yang menyayat hati. Jantungnya berdetak kencang, dan rasa takut mulai merayap di dalam dirinya. Meski begitu, rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.
Ia berjalan pelan, mengikuti suara tersebut, hingga tiba di sebuah pohon besar yang berlumut. Di sana, sosok perempuan berpakaian putih tampak memunggunginya. Rambutnya terurai panjang, dan tubuhnya seakan tembus pandang, melayang-layang di antara ranting-ranting pohon. Ardi tidak bisa mengeluarkan suara; tubuhnya beku seolah terperangkap dalam mimpi buruk yang nyata.
Perlahan, sosok itu berbalik. Wajahnya pucat, matanya kosong, dengan senyum mengerikan yang membuat darah Ardi membeku. "Kenapa kau di sini?" tanya suara perempuan itu dengan nada berbisik namun jelas.
Tak kuasa menjawab, Ardi berbalik dan mulai berlari. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menariknya kembali ke hutan itu. Di setiap sudut, ia merasa sosok perempuan itu mengikutinya, melayang di antara pepohonan, kadang tertawa pelan, kadang hanya memandang dari kejauhan dengan senyum aneh.
Ardi kehabisan napas saat ia akhirnya tiba di tempat yang sedikit terbuka. Namun, yang ia lihat malah membuatnya semakin takut—lingkaran batu besar dengan simbol-simbol kuno yang tak ia kenali. Di tengah lingkaran itu, terdapat boneka lusuh yang menyerupai anak kecil, dengan bekas darah kering di sekelilingnya.
Ketakutan mencapai puncaknya. Ia terjatuh, merasakan tatapan dari segala arah. Kabut semakin tebal, menutup jalur keluar. Dalam kekalutan, ia mendengar suara perempuan itu lagi, kali ini lebih dekat, berbisik tepat di belakang telinganya, "Selamat datang di tempat kami, Ardi. Kau akan menjadi bagian dari kami... selamanya."
Esok paginya, petugas penjaga menemukan ponsel Ardi tergeletak di tanah, dengan rekaman terakhir berupa suara isak tangis yang disertai bisikan aneh. Tubuhnya tak pernah ditemukan, namun sejak itu, pendaki yang tersesat di sana mengaku mendengar seseorang memanggil nama mereka dalam bisikan samar.
Komentar
Posting Komentar